Rasa
Kehidupan
Judul Buku : Rojak
Penulis : Fira Basuki
Penerbit : PT Grasindo
Cetakan V : 2004
Tebal :
x + 174 halaman
Harga :
-
Hidup tidaklah lengkap
tanpa suatu pernikahan. Seperti yang dikisahkan pengarang perempuan kelahiran
Surabaya Fira Basuki yang merangkai kisah rasa manis pernikahan yang berbumbu asin,
asam, pahit, bahkan pedas melalui novel Rojak.
Kisahnya tentang pernikahan
campuran seorang perempuan bernama Janice Wong keturunan Cina peranakan Melayu
yang tinggal di Singapura dengan Setyo Hadiningrat keturunan Jawa yang tinggal
di Indonesia. Janice kerab dipanggil Jan. Ibu dua anak ini dikenal pendiam,dan lembut
oleh Bernice (sahabat baiknya), namun mengapa perempuan pendiam bisa mendekam
di penjara? Kenyataan pahit itu yang membuat saya penasaran sehingga saya tidak
ingin melepas buku ini sebelum selesai membacanya.
Bernice
diberikan secarik kertas beserta buku kecil kecoklatan oleh Jan. Sebelum
Bernice memberikan buku itu kepada laki-laki yang bernama Eric, rasa penasaran akan
isi buku itu mengalahkan segala pemikiran lain. Perlahan-lahan Bernice membuka
buku itu. Ternyata banyak curahan hati Jan pada buku kecil kecoklatan itu.
Jan mengalami banyak
cobaan dalam rumah tangganya dengan Mas Setyo. Dengan kedatangan Ibu Mas Setyo
yang cerewet pada Jan. Namun Jan selalu diam, sabar, dan terus mengalah. Ibu
Jan yang ia panggil dengan sebutan Ma pernah berkata pepatah Cina “bu yao pa bu hao hui, jangan pernah takut,
jangan menyesal”. Rojak di Indonesia itu disebut rujak, maka itu Ma menyuruh
Jan membayangkan segala bentuk arti rojak itu dan mengaplikasikannya dalam
rumah tangga. Ketika melihat keadaan rumah yang kacau akhirnya Jan memutuskan
untuk mencari pembantu. Alhasil Jan menemukan pembantu bernama Ipah asal
Indonesia. Namun lagi-lagi Ibu Mas Setyo tidak suka dengan pilihan Jan.
Untuk menghilangkan
penat, Jan jogging di taman luar apartemen dan tidak sengaja bertemu dengan
guru yoga bernama Eric. Lama mengenal Eric, timbul suatu perasaan yang berbeda
sampai suatu ketika Jan dan Eric melakukan suatu hubungan yang seharusnya tidak
mereka lakukan. Di satu sisi Jan merasakan manisnya hubungan tersebut, tapi
disisi lain ia merasa bersalah pada Mas Setyo. Namun, ternyata Mas Setyo
memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Jan. Mas Setyo selama bertugas ke
luar negeri sering melakukan hubungan gelap dengan wanita lain di luar sana.
Eric berkabar bahwa
dirinya dijodohkan dengan perempuan pilihan keluarganya, itu membuat hati Jan
miris. Sampai suatu ketika Ma meninggal karena virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) atau sindrom pernapasan akut
parah. Belum lagi suami, anak-anak dan mertuanya meninggalkan Jan pergi ke
Jakarta. Jan mengira semua kesendiriannya ini terjadi karena kutukan sebab
dirinya telah menghianati suaminya. Namun ternyata Ipah penyebabnya. Titik
kemarahan Jan memuncak, hingga Jan seakan berubah menjadi monster lalu menyiram
Ipah dengan air panas. Karena perbuatannya itu Jan masuk penjara. Ia sendiri,
sepi, tidak ada yang peduli dengannya.
Bernice menangis membaca kisah sahabatnya
itu. Dia bersyukur beberapa bulan menikah tiada cerita lain selain bahagia.
Namun sejak dua orang berseragam biru (polisi) datang ke rumah Bernice mencari
suaminya yang ternyata terlibat hubungan yang seharusnya tidak ia lakukan
dengan Jan, Bernice merasa terpuruk. Ternyata Eric yang dimaksud Jan itu adalah
Yang Sheng suaminya sendiri yang memang memiliki nama kecil Eric Tan.
Alur
novel ini bagus, dengan bahasa yang mudah dipahami. Fira menciptakan setiap
tokoh dengan karakter berbeda, dan selalu menceritakan “alasan” seorang tokoh
dalam melakukan perbuatan, termasuk perbuatan negatif.
Namun,
sayangnya ilustrasi gambar pada cover novel ini kurang menarik. Selain itu Fira
tidak menceritakan bagaimana Jan bisa bersahabat dengan Bernice.
Novel ini cocok dibaca
oleh kalangan remaja yang berumur 17 tahun ke atas karena banyak kalimat yang
tidak boleh dibaca oleh anak di bawah umur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar